Archive for the 'Dakwah' Category

28
Agu
07

Wasiat….

بسم الله الرحمن الرحيم

 

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ مِنْ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
وَلا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

”Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu Yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar [~Maksudnya yang dibenarkan oleh syara’ seperti qishash membunuh orang murtad, rajam dan sebagainya~]“, demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. dan apabila kamu berkata, Maka hendaklah kamu Berlaku adil, Kendatipun ia adalah kerabat(mu) [~Maksudnya mengatakan yang sebenarnya meskipun merugikan Kerabat sendiri~], dan penuhilah janji Allah [~Maksudnya penuhilah segala perintah-perintah-Nya~]. yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.. Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) [~Maksudnya, janganlah kamu mengikuti agama-agama dan kepercayaan- kepercayaan yang lain dari Islam. Mujahid mengartikan ”As Subul” dengan segala macam bid’ah dan jalan-jalan yang tidak benar~], karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’aam:151-153)

Ayat di atas memberikan sepuluh wasiat penting yang perlu dijadikan pegangan dan pedoman, untuk mencapai keselamatan pribadi dan keberuntungan masyarakat. Sepuluh wasiat ini meliputi berbagai persoalan, perintah dan larangan, mengenai perkataan dan perbuatan serta pokok-pokok keutamaan, budi.

1. Jangan Mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, dengan cara dan niat bagaimana juapun.

Janganlah memuja selain dan Allah, baik benda di bumi dan di langit, ataupun kekuatan-kekuatan gaib yang ada di dunia ini. Pemujaan itu biarpun dengan dasar memandangnya sebagai penolong dari sisi Allah ataupun untuk mendekatkan diri kepadaNya.

Firman Allah Swt:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

”Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada Kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?” [~Kalimat ini adalah ejekan terhadap orang-orang yang menyembah berhala, yang menyangka bahwa berhala-berhala itu dapat memberi syafaat Allah~] Maha suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu).” (QS. Yunus:18)

أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

”Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar:3)

2. Berbuat baik (berbakti) kepada ibu bapak

Berbakti di sini dengan pengertian yang luas, hormat dan sopan terhadap mereka, membantu dalam berbagai keperluan serta menjauhi sikap kasar dan kurang hormat terhadap mereka. Berbakti kepada ibu bapa merupakan budi utama dan moral yang tinggi. Durhaka kepada ibu bapak termasuk dosa besar. Berkenaan dengan soal ini disebutkan dalam firman Allah SWT:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا.وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia [~Mengucapkan kata Ah kepada orang tua tidak dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu~]. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.” (QS. Al-Israa:23-24)

Abdullah bin Mas’ud bertanya kepada Rasulullah SAW: “Manakah perbuatan yang lebih utama?” Rasulullah bersabda: “Sembahyang pada waktunya”. Kemudian: “Sesudah itu, apa?” Beliau bersabda: “Berbakti kepada ibu bapa”. Kemudian bertanya lagi: “Sesudah itu, apa?” Beliau bersabda: “Berjuang (jihad) di jalan Allah”.

3. Jangan membunuh anak, karena takut miskin

Ingatlah, Allah SWT yang memberi kamu rezeki dan juga rezeki mereka. Kebiasaan zaman Jahilliyah membunuh anak-anak, terutama anak-anak perempuan, karena takut miskin, mengingat besarnya beban penghidupan di kemudian hari dan karena sebab-sebab lain. Pembunuhan ini diberantas oleh Islam dengan sekeras-kerasnya. Diperingatkan pula, bahwa Allah SWT yang memberi rezeki kepada kita dan juga kepada anak-anak kita. Janganlah terlalu takut menghadapi beban penghidupan zaman depan, melainkan bekerjalah dan bekerja keras dengan penuh pengharapan menyongsong masa datang.

4. Jangan dekati perbuatan keji, baik yang terang ataupun yang tersembunyi

Kata-kata perbuatan keji mempunyai pengertian yang luas, baik berupa perkataan atau perbuatan dan pelanggaran kesopanan, seperti perzinaan dan sebagainya. Perbuatan keji itu hendaklah dijauhi, baik di depan umum ataupun tersembunyi di tempat yang lengang dan sepi. Setiap perbuatan itu merusak. biarpun diketahui orang lain atau tidak.

5. Janganlah kamu membunuh orang yang dilarang Allah membunuhnya, kecuali untuk kebenaran dan keadilan

Pembunuhan untuk keadilan dan kebenaran, rnaksudnva ialah pembunuhan karena hukuman yang telah dijatuhkan oleh hakim dan dilaksanakan oleh petugas yang diwajibkan melaksanakan putusan itu. Bukan saja terlarang membunuh orang yang beragama Islam, juga orang yang bulan Islam, asal mereka tidak memerangi kaum Muslimin atan menghalangi perkembangan agama Islam. Orang-orang yang bukan Islarn, tetapi telah menjadi warga dari Negara Islam dan bersedia rnematuh pernerintahannya, sama haknya dengan orang Islam sendiri.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya: ”Baransiapa yang rnembunuh seorang Mu’ahid (orang yang bukan Islam dan telah berjanji setia kepada pemerintah Islam) dan orang yang telah dijamin oleh Allah dan Rasul, maka si pembunuh tidak memperoleh bau surga, sedang bau surga itu dapat dirasakan sejauh perjalanan 70 tahun “. (Riwayat Tirmizi dan Ibnu Majah).

6. Mengurus harta anak yatim menurut cara yang sebaik-baiknya

Barang siapa yang bekerja mengurus harta anak yatim, hendaklah diurusnya dengan sebaik-baiknya, dalam memelihara dan mempergunakannya untuk perbelanjaan anak yatim itu. Setelah anak yatim itu cukup dewasa dan telah sanggup mengurus urusannya sendiri, hendaklah harta itu diserahkan kepadanya. Memakan harta anak yatim dengan cara tiada halal termasuk kesalahan (dosa) besar.

7. Mencukupkan sukatan dan timbangan

Menyukat dan menimbang dengan betul, ketika membeli atau menjual adalah sangat perlu sekali, bagi memelihara hak dan keadilan dan untuk keselamatan perekonomian. Janganlah mencukupkan sukatan dan timbangan itu hanya untuk diri sendiri, sedang kalau untuk orang lain, sukatan dan timbangan itu dikurangi. Perbuatan demikian adalah sangat tercela dan mendatangkan celaka, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT:

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ.الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ.وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Mutaffifin: 1-3)

8. Apabila berkata, hendaklah dengan adil dan benar, biarpun mengenai kerabat

Adil dan benar dalam perkataan, terutarna ketika memberikan keterangan mengenai suatu suatu perkara (persengketaan) adalah sangat perlu sekali, karena disitulah letaknya kebenaran, keadilan dan ketenteraman masyarakat. Saksi palsu yang mernberikan keterangan tidak benar dalam sesuatu perkara, jelas menimbulkan ketidakadilan, penganiayaan, kekacauan dalam rnasyarakat dan menyebabkan persengketaan tiada habis-habisnya.

Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah:8)

9. Tepatilah janji dengan Allah

Janji ini mengandung pengertian yang luas, berarti perintah dari Allah kepada manusia dengan perantaraan Rasul-rasul atau perjanjian batin yang ditimbulkan oleh akal, pikiran dan perasaan sehat. Demikian pula perjanjian yang diikat antara sesarna manusia dalam kehidupan sehari-hari, dengan surat menyurat dan lisan.

Melanggar janji adalah suatu kesalahan besar dan menimbulkan akibat buruk dalam hubungan antara manusia sesamanya, disebabkan hilangnya kepercayaan antara satu sama lain. Melanggar janji termasuk tanda tiada sempurnanya keimanan seseorang, seperti yang tersebut dalam sabda Rasulullah; yang artinya:

“Empat perkara, siapa ada keempatnya pada orang itu, adalah dia seorang munafik tulen. Tetapi kalau pada orang itu hanya satu perkara saja, berarti pada orang itu hanya satu perkara dari kemunafjkan sebelurn hal itu ditinggalkannya Yang empat itu ialah: 1. Apabila dia berkata, dusta. 2. Apabila dia bejanji, rnungkir. 3. Apabila dipercaya, khianat. 4. Apabila bermusuh, sangat kejamnya “. (Riwayat Bukhari dan Muslim).

10. Turut jalan-jalan Allah yang lurus dan janganlah diturut jalan-jalan lain yang menyimpang dari jalan Allah

Jalan Allah itu maksudnya agama Islam dan petunjuk Qur’an yang dapat mengantarkan manusia kepada kebahagiaan dunia akhirat, pribadi dan masyarakat. Barangsiapa yang menyimpang dan jalan Allah dan mengikuti jalan-jalan lain yang sesat, niscaya orang itu akan terpisah dan jalan Allah dan bakal menemui kebinasaan dan kecelakaan.

Menurut riwayat Imam Ahmad, pada suatu kali Rasulullah saw membuat suatu garis lurus dengan tangan beliau sendiri, kemudian beliau bersabda: “Inilah jalan Allah yang lurus”. Dan beliau membuat lagi dua garis di sebelah kanan dan sebelah kiri dari garis yang pertama tadi, lalu beliau bersabda: “Inilah jalan-jalan yang bukan jalan Allah. Di setiap jalan sesat itu ada syaitan yang membuat saranan supaya jalan-jalan itu ditempuh”. Sesudah itu beliau membaca ayat: “Sesungguhnya inilah jalanKu yang lurus…” (QS. Al-An’aam: 153).

Kaum Muslimin yang telah mempunyai jalan lurus, yaitu agama Islam yang bersumber kepada Qur’an, janganlah kiranya dapat disimpangkan kepada jalan-jalan lain oleh tipu daya manapun, sehingga terpisah dari jalan Allah. Memang setiap jalan lain itu mempunyai ahli-ahli sarana yang pandai, menyebabkan orang mudah tertarik menempuhnya. Sebab itu, hendaklah kaum Muslimin berhati-hati, hemat, cermat dan waspada terhadap segala usaha yang hendak menyimpangkan mereka dari jalan Allah.

Dalam ayat 151 sesudah menyebutkan larangan mempersekutukan Allah, menyuruh berbakti kepada ibu-bapa, larangan membunuh anak, larangan mendekati perbuatan keji yang terang dan tersembunyi dan larangan membunuh orang kecuali untuk kebenaran (keadilan), dikunci dengan firman-Nya: “Itulah yang diperintahkan Allah kepada kamu, supaya kamu mengerti”.

Ayat 152 sesudah itu melarang mengurus harta anak yatim dengan cara yang tidak baik, menyuruh mencukupkan sukatan dan timbangan, menyuruh berkata adil, walaupun mengenai kerabat dan menyuruh menepati janji, ditutup dengan firman Allah: “Itulah yang diperintahkan Allah kepada kamu, supaya kamu mengerti”.

Ayat 153, setelah memerintahkan mengikuti jalan Allah yang lurus dan jangan mengikuti jalan-jalan lain, supaya jangan terpisah (menyimpang) dari jalan Allah, ditutup dengan firman Allah: “Itulah yang diperintahkan Allah kepada kamu, supaya kamu bertakwa”.

Dengan mempergunakan pikiran, memperkuat ingatan dan bertakwa kepada Allah SWT, manusia akan memperoleh kebahagiaan lahir dan batin. Allahu A’lam. (Bahan Bacaan: Membentuk Moral Bimbingan Al Qur’an, Fachruddin H.S., Penerbit Bina Aksara)

06
Agu
07

Gerhana bulan dan matahari di bulan Ramadhan

Gerhana bulan dan matahari di bulan Ramadhan

Ada dua tanda untuk kedatangan Al Mahdi … Yang pertama adalah gerhana bulan di malam pertama Ramadhan, dan kedua adalah gerhana matahari di pertengahan bulan ini. (Ibn Hajar al-Haythami, Al-Qawl al-Mukhtasar fi `Alamat al-Mahdi al-Muntazar, hal. 47)

Akan ada dua gerhana matahari di bulan Ramadhan sebelum kedatangan Al Mahdi. (Mukhtasar Tazkirah Qurtubi)

… Gerhana matahari di pertengahan bulan Ramadhan dan gerhana bulan di akhirnya …. (Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi Alamat al-Mahdi Akhir al-zaman, hal. 37)

Telah sampai kepadaku bahwa sebelum Al Mahdi datang bulan akan gerhana dua kali di bulan Ramadhan (Diriwayatkan oleh by Abu Nu’aym in al-Fitan)

Yang menarik di sini adalah, tidak mungkin akan ada dua gerhana matahari dan gerhana bulan dalam satu bulan. Hal ini tidak dapat terjadi pada keadaan biasa. Akan tetapi, sebagian besar tanda-tanda Hari Akhir merupakan peristiwa-peristiwa yang dapat dijangkau dan diwujudkan oleh pikiran manusia, dan tergantung pada alasan tertentu.


A picture of the July 31, 1981, solar eclipse.

Apabila peristiwa-peristiwa ini dianalisis lebih lanjut, sejumlah perbedaan menjadi jelas. Yang terbaik dilakukan dalam keadaan seperti ini adalah menentukan hal-hal yang menjadi kesepakatan. Dugaan yang ada adalah sebagai berikut: akan ada gerhana matahari dan bulan selama bulan Ramadhan. Keduanya akan berjarak sekitar 14-15 hari dan gerhana-gerhana ini akan berulang dua kali.

Sejalan dengan perhitungan ini, ada sebuah gerhana bulan pada tahun 1981 (tahun Hijriyah 1401) pada hari ke-15 bulan Ramadhan dan gerhana bulan pada hari ke-29 pada bulan tersebut. Ada pula sebuah gerhana bulan “kedua” pada tahun 1982 (tahun Hijriyah 1402) pada hari ke-14 bulan Ramadhan dan gerhana matahari pada hari ke-28 pada bulan tersebut.

Ini juga penting, terutama karena dalam contoh khusus ini, akan ada sebuah gerhana bulan penuh di pertengahan bulan Ramadhan, sebuah ramalan yang paling mendekati kebenaran.

Kejadian peristiwa-peristiwa ini selama kurun waktu yang sama bertepatan dengan tanda-tanda kedatangan Al Mahdi. Hal tersebut, beserta kejadian ulangannya yang menakjubkan di permulaan abad keempat belas Hijriah selama dua tahun berturut-turut (1401-02), menjadikan kejadian-kejadian ini mungkin adalah tanda-tanda yang disebutkan oleh hadits.

24
Jul
07

Pertanyaan Imam Ghazali

Pertanyaan Imam GhazaliKepada seluruh muridnya Suatu hari Imam Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya. Kemudian ia bertanya kepada seluruh muridnya. 

Imam Ghazali: “Apa yang paling dekat dengan kita di dunia ini ?”.

Mereka menjawab: “Orang tua, guru, kawan, dan sahabat…!!!”.

Imam Ghazali: “Benar…semua yang kalian katakana.., tetapi yang sesungguhnya yang lebih dekat dengan kita adalah mati. Sebab, setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”  

Imam Ghazali: “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini ?”

Mereka menjawab: “Matahari, bulan, dan bintang-bintang…!!!”

Imam Ghazali: “Ya…kalian benar. Tetapi yang paling jauh dari diri kita di dunia ini adalah masa lalu. Dengan cara apapun, kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Oleh karena itu, kita harus menjaga hari ini dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama.

 Imam Ghazali: “Apa yang paling besar di dunia ini?”

Mereka menjawab: “Pasti gunung…!!!”Imam Ghazali: “Ya…kalian benar. Tetapi yang lebih besar adalah nafsu. Kita harus berhati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa kita ke neraka.  

Imam Ghazali: “Apa yang paling berat di dunia ini?”

Mereka menjawab: “Besi..gajah..!!!”Imam Ghazali: “Benar…tetapi yang paling berat adalah memegang amanat .”  

Imam Ghazali: “Apa yang paling ringan di dunia ini?”

Mereka menjawab: “Kapas…angin…debu…dan dedaunan..!!!”Imam Ghazali: “Kalian benar… Tetapi yang paling ringan adalah meninggalkan sholat.

 Imam Ghazali: “Apakah yang paling tajam di dunia ini?”

Mereka menjawab: “Pisau dan pedang…!!!”

Imam Ghazali: “Benar… tapi yang paling benar adalah yang paling tajam di dunia ini adalah lidah. Karena lidah manusia selalu bisa menyakiti hati dan perasaan saudaranya.  

“Seorang mukmin itu

kegembiraanya tampak di wajahnya,

Sedangkan kesedihannya

 tersimpan di dalam qalbunya”

24
Jul
07

7 Indikator Kebahagiaan Dunia

Ada tujuh indicator kebahagiaan dunia: 

  1. Qalbun Syukrn: Memiliki hati yang selalu bersyukur, ia qana’ah dan selalu merasa cukup terhadap segala anugerah yang telah Allah berikan kepadanya. Mungkin ada orang ngomong :”Kenapa wajah gw gak secantik Tamara Blyzensky, hidung gw pesek?”. Mau apalagi sih…kita tuh di dunia Cuma satu kali paling banter juga 70 tahun. Abis tu wafat…!!! Syukurin dong, yang penting Allah udah ngegratisin oksigen di dunia ini, bayangin aja klo harga oksigen di rumah sakit.  
  2. Azwajun sholehah: Memiliki pasangan (istri/suami) yang solehah

Sedikit tips nih..: Kita harus ingat bahwa Allah SWT sudah menentukan jodoh untuk kita, trus tinggal kita aja berikhtiar untuk mencarinya. Dan kalo kita mau mendapat istri yang solehah, maka kita dulu yang kudu sholeh.. jangan muluk-muluk dah klo kita minta ma Allah pengen istri sholehah, tapi kelakuan kita masih ngalor-ngidul alias gak bener.

  1. Alawladun sholeh : Anak yang sholeh. Nah, klo punya anak yang sholeh adalah ladang amal kebaikan dan ampunan bagi orang tuanya. Bayangkan aje, klo kita nanti sebagai orang tua semasa hidup kita dia akan selalu memberikan ketentraman lahir batin, apalagi klo kita udah meninggal, anak sholeh yang kita punya pasti akan selalu mendoakan ampunan kedua orang tuanya..jangan salah bro..
  2. Albiyatus sholehah: Lingkungan yang baik. Yang satu ini perlu diperhatiin bagi kita semua. Jangan ampe tempat tinggal kita jauh dari suasana agama. Naudzubillahi min dzalik.. makanya klo udah terlanjur nih, buru-buru deh kita benahin manajemen keluarga kita. Setting lagi deh tuh timer buat curhat ma Allah, klo perlu ubah lingkungan sebelumnya menjadi lingkungan yang robbani. Pasti bisa men…!!!
  3. Harta yang halal. Kehalalan sesuatu itu akan membuahkan fikiran dan sikap yang tenang dalam menghadapi hidup. Klo duit hasil korupsi, pasti jiwa ini gak bakal bisa tenang, tiap ada rapat mengenai hal keuangan di kantor.. dag,,dag,,dig,,dig,,jantung ini kerasa pengen lari dari dada. Sesak napas, batuk dan bengek…bisa jadi penyakit komplikasi tuh.. ati-ati tuh tanda bahwa umur udah makin pendek.
  4. Tafakuh fiddiin: semangat untuk memahami agama. Nih kudu kita jalanin… kita klo liat orang di sekeliling kita lebih banyak membaca Qoran (Koran)atau Qur’an??? Jawaban ada di hati kita dan gak perlu saling menyalahkan,,,  pemahaman agama sangat diperlukan karena sebagai bekal untuk perjalanan kita ke negeri akhirat.
  5. Umur yang barokah, semakin tua…semakin sholeh dan produktif. Wah, klo ini kudu kita waspadain!!! Jangan ampe 24 jam waktu kita cuma buat ke kantor yang dari jam 6 pagi ampe jam 4 sore, trus bolak-balik waktu diperjalanan sekitar 2 jam, abis ntu kecape’an.. eh.. kepulesan ampe terus-terusan lupa sholat isya apalagi subuh.

Klo saya kasih pernyataan, pilih mana:

  1.  Umur pendek banyak pahala
  2.  Umur panjang banyak dosa
  3. Umur pendek sedikit dosa
  4. Umur panjang banyak pahala

Terserah deh.. klo kita mau hidup bahagia di dunia, kudu ati-ati njalaninnya..  

24
Jul
07

Jumlah Dosa Besar Anggota Badan

Jumlah Dosa Besar Anggota Badan 

Dari Abu Thalib Al-Makky, ia mangumpulkan perkataan dari para sahabat dan ia mendapati jumlah dosa besar anggota badan sebagai berikut:

 Empat dalam hati:

  1. Syirik
  2. Bertahan dalam kemaksiatan
  3. Putus asa dari rahmat Allah SWT
  4. Merasa aman dari makar Allah SWT

 Empat di lidah:

  1. Kesaksian dusta
  2. Menuduh muslimah yang baik
  3. Sumpah palsu
  4. Sihir

 Tiga dalam perut:

  1. Meminum minuman keras
  2. Memakan harta anak yatim
  3. Memakan riba

 Dua di kemaluan:

  1. Zina
  2. Homoseks

 Dua di tangan:

  1. Membunuh
  2. Mencuri

 Satu di kaki:

  1. Lari dari medan peperangan

 Satu di seluruh badan:

  1. Durhaka terhadap orang tua

  

“Ya Allah… lindungi hamba dari seluruh dosa- dosa tersebut.. berikan kekuatan untuk hamba dalam menjalankan seluruh perintahMu dan menjauhkan segala laranganMu .”