28
Agu
07

Wasiat….

بسم الله الرحمن الرحيم

 

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ مِنْ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
وَلا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

”Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu Yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar [~Maksudnya yang dibenarkan oleh syara’ seperti qishash membunuh orang murtad, rajam dan sebagainya~]“, demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. dan apabila kamu berkata, Maka hendaklah kamu Berlaku adil, Kendatipun ia adalah kerabat(mu) [~Maksudnya mengatakan yang sebenarnya meskipun merugikan Kerabat sendiri~], dan penuhilah janji Allah [~Maksudnya penuhilah segala perintah-perintah-Nya~]. yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.. Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) [~Maksudnya, janganlah kamu mengikuti agama-agama dan kepercayaan- kepercayaan yang lain dari Islam. Mujahid mengartikan ”As Subul” dengan segala macam bid’ah dan jalan-jalan yang tidak benar~], karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’aam:151-153)

Ayat di atas memberikan sepuluh wasiat penting yang perlu dijadikan pegangan dan pedoman, untuk mencapai keselamatan pribadi dan keberuntungan masyarakat. Sepuluh wasiat ini meliputi berbagai persoalan, perintah dan larangan, mengenai perkataan dan perbuatan serta pokok-pokok keutamaan, budi.

1. Jangan Mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, dengan cara dan niat bagaimana juapun.

Janganlah memuja selain dan Allah, baik benda di bumi dan di langit, ataupun kekuatan-kekuatan gaib yang ada di dunia ini. Pemujaan itu biarpun dengan dasar memandangnya sebagai penolong dari sisi Allah ataupun untuk mendekatkan diri kepadaNya.

Firman Allah Swt:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

”Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada Kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?” [~Kalimat ini adalah ejekan terhadap orang-orang yang menyembah berhala, yang menyangka bahwa berhala-berhala itu dapat memberi syafaat Allah~] Maha suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu).” (QS. Yunus:18)

أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

”Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar:3)

2. Berbuat baik (berbakti) kepada ibu bapak

Berbakti di sini dengan pengertian yang luas, hormat dan sopan terhadap mereka, membantu dalam berbagai keperluan serta menjauhi sikap kasar dan kurang hormat terhadap mereka. Berbakti kepada ibu bapa merupakan budi utama dan moral yang tinggi. Durhaka kepada ibu bapak termasuk dosa besar. Berkenaan dengan soal ini disebutkan dalam firman Allah SWT:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا.وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia [~Mengucapkan kata Ah kepada orang tua tidak dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu~]. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.” (QS. Al-Israa:23-24)

Abdullah bin Mas’ud bertanya kepada Rasulullah SAW: “Manakah perbuatan yang lebih utama?” Rasulullah bersabda: “Sembahyang pada waktunya”. Kemudian: “Sesudah itu, apa?” Beliau bersabda: “Berbakti kepada ibu bapa”. Kemudian bertanya lagi: “Sesudah itu, apa?” Beliau bersabda: “Berjuang (jihad) di jalan Allah”.

3. Jangan membunuh anak, karena takut miskin

Ingatlah, Allah SWT yang memberi kamu rezeki dan juga rezeki mereka. Kebiasaan zaman Jahilliyah membunuh anak-anak, terutama anak-anak perempuan, karena takut miskin, mengingat besarnya beban penghidupan di kemudian hari dan karena sebab-sebab lain. Pembunuhan ini diberantas oleh Islam dengan sekeras-kerasnya. Diperingatkan pula, bahwa Allah SWT yang memberi rezeki kepada kita dan juga kepada anak-anak kita. Janganlah terlalu takut menghadapi beban penghidupan zaman depan, melainkan bekerjalah dan bekerja keras dengan penuh pengharapan menyongsong masa datang.

4. Jangan dekati perbuatan keji, baik yang terang ataupun yang tersembunyi

Kata-kata perbuatan keji mempunyai pengertian yang luas, baik berupa perkataan atau perbuatan dan pelanggaran kesopanan, seperti perzinaan dan sebagainya. Perbuatan keji itu hendaklah dijauhi, baik di depan umum ataupun tersembunyi di tempat yang lengang dan sepi. Setiap perbuatan itu merusak. biarpun diketahui orang lain atau tidak.

5. Janganlah kamu membunuh orang yang dilarang Allah membunuhnya, kecuali untuk kebenaran dan keadilan

Pembunuhan untuk keadilan dan kebenaran, rnaksudnva ialah pembunuhan karena hukuman yang telah dijatuhkan oleh hakim dan dilaksanakan oleh petugas yang diwajibkan melaksanakan putusan itu. Bukan saja terlarang membunuh orang yang beragama Islam, juga orang yang bulan Islam, asal mereka tidak memerangi kaum Muslimin atan menghalangi perkembangan agama Islam. Orang-orang yang bukan Islarn, tetapi telah menjadi warga dari Negara Islam dan bersedia rnematuh pernerintahannya, sama haknya dengan orang Islam sendiri.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya: ”Baransiapa yang rnembunuh seorang Mu’ahid (orang yang bukan Islam dan telah berjanji setia kepada pemerintah Islam) dan orang yang telah dijamin oleh Allah dan Rasul, maka si pembunuh tidak memperoleh bau surga, sedang bau surga itu dapat dirasakan sejauh perjalanan 70 tahun “. (Riwayat Tirmizi dan Ibnu Majah).

6. Mengurus harta anak yatim menurut cara yang sebaik-baiknya

Barang siapa yang bekerja mengurus harta anak yatim, hendaklah diurusnya dengan sebaik-baiknya, dalam memelihara dan mempergunakannya untuk perbelanjaan anak yatim itu. Setelah anak yatim itu cukup dewasa dan telah sanggup mengurus urusannya sendiri, hendaklah harta itu diserahkan kepadanya. Memakan harta anak yatim dengan cara tiada halal termasuk kesalahan (dosa) besar.

7. Mencukupkan sukatan dan timbangan

Menyukat dan menimbang dengan betul, ketika membeli atau menjual adalah sangat perlu sekali, bagi memelihara hak dan keadilan dan untuk keselamatan perekonomian. Janganlah mencukupkan sukatan dan timbangan itu hanya untuk diri sendiri, sedang kalau untuk orang lain, sukatan dan timbangan itu dikurangi. Perbuatan demikian adalah sangat tercela dan mendatangkan celaka, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT:

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ.الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ.وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Mutaffifin: 1-3)

8. Apabila berkata, hendaklah dengan adil dan benar, biarpun mengenai kerabat

Adil dan benar dalam perkataan, terutarna ketika memberikan keterangan mengenai suatu suatu perkara (persengketaan) adalah sangat perlu sekali, karena disitulah letaknya kebenaran, keadilan dan ketenteraman masyarakat. Saksi palsu yang mernberikan keterangan tidak benar dalam sesuatu perkara, jelas menimbulkan ketidakadilan, penganiayaan, kekacauan dalam rnasyarakat dan menyebabkan persengketaan tiada habis-habisnya.

Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah:8)

9. Tepatilah janji dengan Allah

Janji ini mengandung pengertian yang luas, berarti perintah dari Allah kepada manusia dengan perantaraan Rasul-rasul atau perjanjian batin yang ditimbulkan oleh akal, pikiran dan perasaan sehat. Demikian pula perjanjian yang diikat antara sesarna manusia dalam kehidupan sehari-hari, dengan surat menyurat dan lisan.

Melanggar janji adalah suatu kesalahan besar dan menimbulkan akibat buruk dalam hubungan antara manusia sesamanya, disebabkan hilangnya kepercayaan antara satu sama lain. Melanggar janji termasuk tanda tiada sempurnanya keimanan seseorang, seperti yang tersebut dalam sabda Rasulullah; yang artinya:

“Empat perkara, siapa ada keempatnya pada orang itu, adalah dia seorang munafik tulen. Tetapi kalau pada orang itu hanya satu perkara saja, berarti pada orang itu hanya satu perkara dari kemunafjkan sebelurn hal itu ditinggalkannya Yang empat itu ialah: 1. Apabila dia berkata, dusta. 2. Apabila dia bejanji, rnungkir. 3. Apabila dipercaya, khianat. 4. Apabila bermusuh, sangat kejamnya “. (Riwayat Bukhari dan Muslim).

10. Turut jalan-jalan Allah yang lurus dan janganlah diturut jalan-jalan lain yang menyimpang dari jalan Allah

Jalan Allah itu maksudnya agama Islam dan petunjuk Qur’an yang dapat mengantarkan manusia kepada kebahagiaan dunia akhirat, pribadi dan masyarakat. Barangsiapa yang menyimpang dan jalan Allah dan mengikuti jalan-jalan lain yang sesat, niscaya orang itu akan terpisah dan jalan Allah dan bakal menemui kebinasaan dan kecelakaan.

Menurut riwayat Imam Ahmad, pada suatu kali Rasulullah saw membuat suatu garis lurus dengan tangan beliau sendiri, kemudian beliau bersabda: “Inilah jalan Allah yang lurus”. Dan beliau membuat lagi dua garis di sebelah kanan dan sebelah kiri dari garis yang pertama tadi, lalu beliau bersabda: “Inilah jalan-jalan yang bukan jalan Allah. Di setiap jalan sesat itu ada syaitan yang membuat saranan supaya jalan-jalan itu ditempuh”. Sesudah itu beliau membaca ayat: “Sesungguhnya inilah jalanKu yang lurus…” (QS. Al-An’aam: 153).

Kaum Muslimin yang telah mempunyai jalan lurus, yaitu agama Islam yang bersumber kepada Qur’an, janganlah kiranya dapat disimpangkan kepada jalan-jalan lain oleh tipu daya manapun, sehingga terpisah dari jalan Allah. Memang setiap jalan lain itu mempunyai ahli-ahli sarana yang pandai, menyebabkan orang mudah tertarik menempuhnya. Sebab itu, hendaklah kaum Muslimin berhati-hati, hemat, cermat dan waspada terhadap segala usaha yang hendak menyimpangkan mereka dari jalan Allah.

Dalam ayat 151 sesudah menyebutkan larangan mempersekutukan Allah, menyuruh berbakti kepada ibu-bapa, larangan membunuh anak, larangan mendekati perbuatan keji yang terang dan tersembunyi dan larangan membunuh orang kecuali untuk kebenaran (keadilan), dikunci dengan firman-Nya: “Itulah yang diperintahkan Allah kepada kamu, supaya kamu mengerti”.

Ayat 152 sesudah itu melarang mengurus harta anak yatim dengan cara yang tidak baik, menyuruh mencukupkan sukatan dan timbangan, menyuruh berkata adil, walaupun mengenai kerabat dan menyuruh menepati janji, ditutup dengan firman Allah: “Itulah yang diperintahkan Allah kepada kamu, supaya kamu mengerti”.

Ayat 153, setelah memerintahkan mengikuti jalan Allah yang lurus dan jangan mengikuti jalan-jalan lain, supaya jangan terpisah (menyimpang) dari jalan Allah, ditutup dengan firman Allah: “Itulah yang diperintahkan Allah kepada kamu, supaya kamu bertakwa”.

Dengan mempergunakan pikiran, memperkuat ingatan dan bertakwa kepada Allah SWT, manusia akan memperoleh kebahagiaan lahir dan batin. Allahu A’lam. (Bahan Bacaan: Membentuk Moral Bimbingan Al Qur’an, Fachruddin H.S., Penerbit Bina Aksara)

Iklan

0 Responses to “Wasiat….”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: